Dalam dunia penerbangan ada 3 pilar penunjang, yakni:
- Airline
- Airport
- ATS (Air Traffic Services)
Bagaimana dengan ATS?
ATS itu sendiri merupakan unit pelayanan yang terdiri dari:
- Flight Information Service,
- Alerting Service,
- Air Traffic Advisory Service dan
- Air Traffic Control (ATC) Service.
ATC Service adalah suatu pelayanan yang bertujuan untuk:
- Mencegah tabrakan pesawat terbang,
- Mencegah tabrakan pesawat terbang dengan kendaraan/ halangan di daratan,
- Menjaga keteraturan dan mempercepat arus lalu lintas udara (LLU).
ATC Unit terbagi dari:
- Aerodrome Control Tower (TWR),
- Approach Control Unit (APP),
- Area Control Centre (ACC).
Batas kewenangan masing-masing unit diatas sangat bervariasi dipengaruhi oleh wilayah udara yang ditentukan oleh Regulator. Dan dijabarkan dalam AIP (Aeronautical Information Publication) Republik Indonesia (Tory Tri Ruknomo).
Jakarta Air Traffic Control
Wilayah udara Indonesia terbagi dalam 2 FIR (Flight Information Region) yaitu Jakarta dan Makassar. Dari 2 FIR ini terbentuklah Jakarta ACC dan Makassar ACC Jakarta ACC maupun Makassar ACC mempunyai beberapa sektor. Hal ini dibentuk untuk meng-akomodasi ruang udara yang sangat luas, dengan tujuan meningkatkan keselamatan penerbangan.
Keterbatasan wawasan, perkenankan saya hanya memaparkan wilayah udara Jakarta saja.
Jakarta FIR mempunyai 5 sektor Jakarta ACC:
- Jakarta Upper Control Medan (UM),
- Jakarta Upper Control Palembang (UP),
- Jakarta Upper Control Tanjung Karang(UT),
- Jakarta Upper Control Semarang (US),
- Jakarta Upper Control Kalimantan (UK).
Masing-masing sektor ACC membawahi beberapa sektor yang disebut TMA (Terminal Area) sebagai contoh Medan TMA, Pekanbaru TMA, Jakarta TMA, Pontianak TMA, Palembang TMA.
Untuk Jakarta TMA itu sendiri terbagi 2, yaitu Jakarta Lower North (LN) dan Jakarta Lower East (LE).
Dibawah Jakarta TMA terdapat unit APP, disini terdapat Unit Jakarta Approach West (TW) dan Jakarta Approach East (TE). Kemudian Unit Arrival (AN) sebelum akhirnya Unit TWR, yang khusus di Bandara
Soekarno-Hatta dipilah menjadi 4 unit, yaitu:
- Clearance Delivery (CDL),
- Ground Control Selatan (GS),
- Ground Control Utara (GN), dan
- Aerodrome Control Tower (TWR) (Tory Tri Ruknomo).
Regional Area Control Room
Inside The Control Tower
View From The Control Tower
Radar Control Supervisor Ms. Pudji Hastuti
Berikut disampaikan proses (contoh) penerbangan pesawat dari Jakarta-Surabaya.
Penerbang akan selalu mengisi FPL (Flight Plan) dengan data-data sesuai
formulir yang telah disediakan. Namun untuk penerbangan yang berjadwal
operator penerbangan akan menyampaikan RPL (Repetitive Fight Plan) ke Unit BO (Briefing Office) dan Unit FDO (Flight Plan Data Operator) untuk kemudian dimasukkan ke dalam sistim otomasi.
Dimana peran ATC? [khusus Jakarta] (mohon maaf bila tidak berkenan)
Awal mula penerbang akan selalu meminta ATC Clearance sebelum
menghidupkan mesin dan bersiap meninggalkan lokasi parkir. (CDL)
Setelah lengkap menjawab ATC Clearance 10 menit kemudian penerbang akan
meminta untuk menghidupkan mesin pesawat dan mundur dari lokasi parkir.
Masing-masing terminal keberangkatan mempunyai unit sendiri. Untuk
terminal A-B-C penerbang akan berkomunikasi dengan GS, sedangkan terminal
D-E-F dengan GN.
Setelah pesawat tuntas menghidupkan mesin dan pada posisi siap untuk
berjalan, maka penerbang akan minta ijin untuk taxi. Dipandulah pesawat
tersebut menuju titik dimana akan memulai take-off. Dalam bahasa kami
holding position.
Dipertengahan jalan pada posisi yang sudah clear dengan pesawat yang lain penerbang akan diberi istruksi untuk berkomunikasi dengan unit TWR, karena
tanggung jawab TWR yang akan memberangkatkan peswat tsb.
Proses untuk keberangkatan ini akan tergantung dengan pesawat lain yang akan mendarat ataupun pesawat yang berada di depannya. Sehingga perhitungan dan pengalaman seorang ATC untuk memberangkatkan pesawat sangat berperan.
Sesaat pesawat memulai mengudara, penerbang akan diminta berkomunikasi dengan unit TE, setelah lepas ketinggian tertentu penerbang diminta berkomunikasi dengan unit LE, demikian seterusnya hingga ke unit US.
Setiap sektor pemanduan LLU, ATC yang bertugas mempunyai tanggung jawab
memisahkan antar pesawat dengan separasi yang sesuai.
Unit US akan selalu berkoordinasi dengan Unit Makassar ACC akan
keberadaan pesawat yang dimaksud, sehingga pada suatu titik pesawat tsb akan
dilimpahkan status tanggung jawabnya ke wilayah udara Makassar.
Makassar ACC akan memandu pesawat tersebut hingga memasuki wilayah udara Surabaya TMA, dan seterusnya pada akhirnya penerbang akan berkomunikasi dengan Juanda TWR untuk melaksanakan pendaratan. Dan melaju ke tempat parkir pesawat di apron.
Inti dari paparan diatas adalah setiap pergerakan pesawat terbang akan selalu terpantau oleh ATC, karena penerbang selalu berkomunikasi dengan unit-unit ATC, baik itu dalam kondisi normal ataupun dalam kondisi abnormal.
Untuk sedikit memberikan gambaran mengenai pekerjaan ATC, ada satu film yang dibintangi oleh Angelina Jolie, John Cusack, Billy Bob Thornton dengan judul Pushing Tin.
Demikian sekelumit peran profesi ATC dalam dunia penerbang kita, mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan (Tory Tri Ruknomo, Jakarta Arrival, Bandara Soekarno-Hatta).
Foto-Foto oleh Admin@BandarUdara.Com
APAKAH ANDA INGIN KARIR DI ATC? (Indonesia Butuh 3.000 Petugas ATC)
Re: "Indonesia Butuh 3.000 Petugas ATC"
(Saran Dari Lapangan)
Mengirim Saran Anda
STPI RAIH APPROVED ATC TRAINING AWARD 2008
Kami sedang menulis informasi lanjut mengenai Air Traffic Control (ATC) di bandara-bandara di Indonesia.
Kalau anda ingin mengirim info kontak kami di sini!
|